4 Jan 2011

aku hanya

saat matahari membenam di rengkuh
saat angin riuh mendesau berebut hulu
saat detak menderu di persimpangan waktu

aku butuh hanya satu kata
lalu menjelma menjadi beribu kata
yang tak pernah usai terbaca

o siapa sangka kemana bersemayam entah
bertahta atas suka raya
atau menyelinap di haribaan sunyi


Jbg, 240910

14 Okt 2010

Bagaimana Aku Tidak Bersyukur...

Allah

dalam hilangnya sesuatu
yang kuanggap sebagai kenikmatan
bagaimana aku tidak bersyukur
bila itu berarti bahwa
Engkau akan gantikan dengan
suatu nikmat yang jauh lebih besar

2 Jun 2010

Manfaat Persoalan


Ibarat sebuah pohon
untuk memperoleh kematangan
dan bentuk yang lebih baik
ada proses yang mesti dilalui
pemangkasan
pemotongan
pengkondisian
dan proses dari setiap pohon
adalah berbeda
ada yang dipangkas sedikit
dan ada yang dipangkas seluruh
namun satu maksudnya
menuju ke bentuk yang lebih baik

24 Mei 2010

tentang sebutir pasir

tentang sebutir pasir
rumah segala Sir
membuat segala mendesir
dalam nyala rindu
yang tibatiba jadi perlu
tanpa seru

sebutir pasir

senantisa bergulir
tak terjamah pikir
hanya kalbu
menderu
laju ke hulu



Jbg, 19.05.10

Dari Sebuah

dari sebuah dosa
aku jadi tahu
bagaimana mesti berharap
dari sebuah cela
aku jadi tahu
apa itu kekerdilan

dari sebuah kebaikan
aku tahu itu
apa kesombongan
dari sebuah kesucian
aku tahu itu
apa kebebalan

dan Tuhan
tak melihat apa pun
dari bentuk



12.05.10

Sedekah

Sore itu Nampak Kang Sarkam dan Dul Kamdi sedang asik duduk jagongan di sebuah angkringan sambil menikmati kopi panas dan semilir angin sore, sambil ngobrol ngalor ngidul. Tibatiba Dul Kamdi dengan mimik agak serius bertanya:

“Kang, kenapa sih orang orang itu kalau sedekah sukanya ditampak-tampakin?”

“Maksudmu siapa, Dul?”, Kang Sarkam balik bertanya.

“Lha itu kayak Kaji Mahsun, masak mau sedekah aja nunggu ngumpulnya orang banyak. Udah gitu pake acara seremonial lagi. Apa itu ndak riya’, Kang?”

“sebentar to, Dul… Maksudmu riya’ gimana, menperlihatkan amal sedekahnya kepada orang banyak karena pingin dipuji gitu to?”

23 Mei 2010

Abu Yazid Al Busthami

Abu Yazid Thaifur ibnu ‘Isa ibnu Surusyan al-Bisthami, cucu seorang Zoroastrian (penganut Zoroastrianisme/ajaran Zoroaster), lahir di Bistham di timur laut Persia, di sana pula beliau wafat pada tahun 261 H/874 M atau 264/877 M, dan hingga kini makamnya masih ada.

Ayahnya adalah salah seorang yang terpandang di kota Bistham. Riwayat kehidupan Abu Yazid yang luar biasa dimulai sejak ia masih berada dalam kandungan ibunya.Ibunya berkata padanya, “Setiap kali ibu memasukkan makanan yang syubhat ke mulut ibu, engkau meronta ronta dalam kandungan dan tak mau diam sampai ibu mengeluarkan makanan itu dari mulut ibu.”Pernyataan ini dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri. lbunya menyekolahkannya. Di sekolah, Abu yazid mempelajari Al-Quran. Suatu hari, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di surah Luqman: “Bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Ayat ini menggetarkan hati Abu Yazid.