Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan

30 Jul 2018

Keyakinan Dan Prasangka Baik

Pada suatu kesempatan saat saya sowan kepada salah satu guru saya, seperti biasanya, saya minta didoakan oleh beliau. Beliau kemudian menjawab, "Dungo iku sugesti, dadi yo tergantung sugestimu. Kapan sugestimu apik tur yakin yo sampean oleh apik, semuno ugo sewalike."

Kakek saya, setiap ada tamu datang ke rumah beliau selalu diberi jamuan seadanya oleh beliau. Saat para tamu itu pamit dan menyisahkan minuman atau jamuannya, selalu dihabiskan oleh beliau tanpa sepengetahuan tamu tersebut.Tidak peduli siapapun adanya tamu itu. Dengan alasan ngalap berkah. 

1 Okt 2011

Keampuhan Sebuah Doa

Ijazah bagi sebagian besar orang yang pernah mengenyam kehidupan sebagi santri, entah berupa doa maupun suwuk, merupakan suatu hal yang menempati posisi sangat urgen dalam kehidupannya untuk nasyrul 'ilmi atau hanya sekedar untuk hidup di tengah masyarakat kelak. Terlebih bila ijazah itu diberikan oleh Kiai yang notabene sudah mempunyai reputasi akan kejadukan, kekeramatan, dan keampuhan doanya. Tak sedikit seorang Kiai yang sudah sampai pada tataran maqom tertentu segala apa yang diucapkannya - meski tampak remeh dan sepele, bisa menjadi ijazah doa yang manjur...

29 Sep 2011

Isyarah Seorang Kiai


Sebagai Lurah di Pondok Induk Tambakberas, Umar termasuk santri yang taat dan teguh terhadap amanah Kiai. Baginya mengingkari dawuh Kiai, walau hanya berupa gerundelan dalam hati adalah merupakan syu’ul adab yang bisa berakibat pada terkikisnya manfa’at dan barokah ilmu.
“Itu merupakan otoritas Kiai…” gumam Kang Umar saat harus tunduk terhadap kebijakan Kiai. Gumam yang sekaligus upayanya  mencari jawab atas pertanyaannya sendiri.  “Seorang guru bertindak memutuskan sesuatu lebih karena berdasar pada ketajaman isyaroh yang beliau peroleh dari kedekatannya dengan Gusti, yang tak jarang itu berada di luar wilayah kemampuan murid untuk menafsirkannya, kecuali orang-orang tertentu. Dan lebih aman bagi kita adalah mendahulukan khusnudzon kepada Kiai...” , lanjut Umar di hadapan para sejawatnya yang lebih junior.

Sampean Temani Saya Makan Ya...


Mbangkong di waktu shubuh bagi sebagian santri ada yang telah menjadi tradisi, Ndak tahu kenapa, apa memang waktu seperti itu merupakan waktu yang sungguh menggugah selera untuk berasyik masyuk dengan bantal. Adalah Kiai Fattah Hasyim, tiap waktu sholat shubuh beliau selalu berkeliling dari kamar ke kamar  membangunkan para santri untuk sholat berjama’ah.  Adalah Sarkam, santri yang berangasan dan gemar olah kanuragan ini kesulitan bangun shubuh karena kecapekan habis latihan gelut waktu malamnya.

10 Mei 2010

Kezuhudan dan Maling Ayam

Mbah Abdullah Salam, atau yang lebih akrab dengan Mbah Dullah, seorang Kiai yang berasal dari Kajen Pati, yang juga paman dari KH Sahal Mahfudz dan juga menjadi seorang mursyid thoriqoh. Sebelum meninggal beliau mengalami sakit strok bertahun-tahun lamanya. Ketika menunaikan ibadah haji, tanpa sepengetahuanya rumah beliau yang asalnya jelek terbuat dari anyaman bambu, dibangun dan diperbaiki oleh pabrik rokok Djarum sehingga menjadi rumah gedung yang kokoh, akan tetapi setibanya dari ibadah haji ternyata beliau tidak mau memasuki rumahnya.

"Saya tidak mau masuk, sebab ini bukan rumah saya" kata Mbah Abdul Salam.

Akhirnya beliau mau masuk setelah pihak pabrik yang membangun rumah tersebut didatangkan untuk memberi pernyataan bahwa rumah tersebut memang benar-benar milik Mbah Dullah.

*****


Pernah suatu ketika santri-santri beliau mengejar seorang pencuri, sampai akhirnya pencuri tersebut tercebur disebuah kolam. Ia terjebak dan tidak bisa lari kemana-mana, karena di sekeliling kolam itu telah dikepung oleh puluhan santri, setiap akan naik dari kolam pukulan yang bertubi dari para santrilah yang menyambutnya.

Tidak beberapa lama kemudian, Mbah Dullah keluar dari kamarnya karena mendengar keributan tersebut.

"Ada apa malam-malam begini ribut ?" Tanya beliau

"Ada maling yang mencuri ayam, Mbah" jawab para santri

"Sudah biarkan saja, yang salah bukan malingnya tapi sayalah yang salah, kenapa saya memelihara ayam, seandainya saya tidak punya ayam pasti malingnya juga tidak masuk kemari"

*****

Naiknya Harus Pakai Tangga

Semasa hidupnya, Kiai wahab dan Kiai Bisyri yang keduanya adalah paman dan keponakan sekaligus tokoh pendiri NU, dikenal sering berbeda pendapat dalam penerapan masalah-masalah hukum fiqih. Tetapi meski demikian keduanya tetap selalu rukun dalam kehidupan keseharian, bahkan kemana-mana selalu runtang-runtung bersama.
Konon suatu ketika menjelang Hari Raya Idul Adha, ada seorang datang kepada Kiai Bisyri di Denanyar, hendak menanyakan suatu permasalahan. Si tamu itu bermaksud qurban dengan menyembelih seekor sapi, tetapi dia bingung apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Dalam ketentuan hukum fiqih, satu ekor sapi hanya boleh diperuntukkan tujuh orang, sedangkan keluarga si tamu seluruhnya ada delapan orang. Padahal dia ingin di akhirat nanti tetap bisa berkumpul bersama-sama dengan keluarganya dalam satu kendaraan, biar tidak tercerai berai gitu maksudnya.
Setelah menyimak penaduan si tamu tersebut, Kiai Bisyri terus menjawab; “ tidak bisa itu, kuban sapi, kerbau atau unta hanya berlaku untuk tujuh orang saja.”

9 Mei 2010

Sedekah

Sore itu Nampak Kang Sarkam dan Dul Kamdi sedang asik duduk jagongan di sebuah angkringan sambil menikmati kopi panas dan semilir angin sore, sambil ngobrol ngalor ngidul. Tibatiba Dul Kamdi dengan mimik agak serius bertanya:

“Kang, kenapa sih orangorang itu kalau sedekah sukanya ditampak-tampakin?”

“Maksudmu siapa, Dul?”, Kang Sarkam balik bertanya.

“Lha itu kayak Kaji Mahsun, masak mau sedekah aja ngumpulnya orang banyak. Udah gitu pake acara seremonial lagi. Apa itu ndak riya’, Kang?”

“sebentar to, Dul… Maksudmu riya’ gimana, menperlihatkan amal sedekahnya kepada orang banyak karena pingin dipuji gitu to?”

8 Mei 2010

Seminar Godheg

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih, dalam sebuah ruangan yang menyerupai sebuah aula itu, yang terletak di pojok antara deretan bangunan asrama santri, nampak Kang Sarkam, Dul Kamdi, Durakim, Kalimi, Mat Pithi, dan teman-temannnya yang berjumlah sekitar lima belas dua puluh orang terlihat  masih asik memperbincangkan sesuatu yang nampaknya seru. Terdengar mereka saling berdebat dengan seru mengutarakan argument masing-masing. Membuka lembar-lembar kitab yang bertumpuk yang bertumpuk dimeja untuk mengumpulkan ta’bir (dalil).

Alih-alih ternyata mereka mengadakan halaqoh (seminar), membahas tentang hukum godhek (geleng-geleng) ketika berdzikir. Siang sebelumnya, Dulkamdi menerima pertanyaan dari seseorang tentang hukum godhek ketika berdzikir, dan dia tak bisa menjawab, karena ia belum mengetahui satu hadits pun yang berkaitan tentang itu. Malamnya mereka mengadakan seminar yang khusus membahas tentang godhek manthuk-mantuhk ketika berdzikir. Tapi, sampai sekian lama, tak satu pun hadits mau pun ta’bir yang bisa mereka jadikan dalil.

16 Apr 2010

Abu Nawas - Ulama yang lebih dikenal sebagai tokoh jenaka

Nama Abu Nawas atau Abu Nuwas merupakan nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Saking masyhurnya, sampai nama aslinya malah jarang di kenal. Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kuffah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

15 Apr 2010

Iki Yo Takdire Gusti Allah...

Adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu tokoh NU yang juga pengasuh Pondok Tambakberas. Beliau dikenal sebagai sosok yang kharismatik, dan juga “gaul”, bahasa anak sekarang.

Ditengah-tengah kesibukan beliau dalam dunia organisasi, beliau tetap tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang Kiai, yaitu ‘ngajeni’ para santri.

Seperti biasa, setiap ba’da isya’ beliau punya rutinan mbalah kitab “fathul majid” yang bertempat di serambi masjid jami’ pondok tambakberas. Kebetulan pada malam itu ngajinya sampai pada bab qodlo’ dan qodar.

Dengan panjang lebar beliau menguraikan masalah itu, mulai yang qodlo’ mubham hingga qodlo’ mubrom, hingga macam-macam qodlo’, ada qodlo’ nikmat dan syada’id, juga qodlo’ qodlo’ tho’at dan ma’shiat.

Kebetulan, atau memang sudah menjadi kebiasaan. Selalu saja ada santri yang saking keenakan ndengerin ngaji atau mungkin karena lainnya, selalu terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur. Salah satu dari santri yang biasa ngantuk saat ngaji itu, sebut saja namanya “Kaslan”, ia juga tertidur saat pengajian berlangsung, dan ia terbangun ketika salah satu temannya “ngileni” hidungnya dengan sebuah sobekan kertas yang dipilin.

Antara Doa dan Sugesti “ Suwuk Mbah Abdullah Salam”

Dalam beberapa hari itu, Mbah Dullah, panggilan akrab dari Kiai Abdullah Salam, selalu kebanjiran tamu yang sowan dengan membawa maksud yang beragam. Bahkan tidak jarang yangh aneh-aneh.

Salah satu dari sekian banyak tamu itu ada tamu yang datang dengan maksud minta kesembuhan. Sesampainya di hadapan Mbah Dullah, tamu itu langsung mengutarakan maksudnya , “Mbah, saya minta kesembuhan penyakit saya. Sudah bertahun-tahun saya terkena penyakit kencing manis dan kencing batu sekaligus."

Demi mendengar keluhan tamu tersebut, sepontan Mbah Dullah menjawab dengan lembut, “Sampean ini bagaimana, wong sakit begitu kok malah datang ke saya, tidak ke dokter saja?"

Pilih Yang Mana...?

Alkisah pada suatu hari datang seorang tamu kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Dengan maksud supaya dicarikan jodoh bagi anak perempuannya.

Dengan nada guyon Kiai Hasyim menanyai tamu tersebut, “Lha sampean maunya cari mantu yang bagaimana, yang pinter mencari duit atau yang pinter menghabisin duit, atau yang gagah, gedhe, dan duwur?” tamu tidak bisa menjawab, kelihatan sedang berpikir.

“Kalau mau yang pinter cari duit, itu cina,” lanjut Kiai Hasyim, “tapi kalau yang pinter menghabisin duit, itu santri. dan kalu yang gagah, gedhe duwur itu Londo”

Sambil menunggu jawaban dari tamu itu Kiai Hasyim melanjutkan, “kalau sapean minta dicarikan menantu cina, saya ndak bisa. Tapi kalu santri banyak. Tapi ya itu tadi, kalau santri pinternya ya cuma menghabisin duit.”

Meniko Yai Ulamipun...

Menurut cerita yang disampaikan oleh Gus Dur sendiri, dulu ketika masih remaja, Gus Dur pernah nyantri di pondoknya Kiai Chudhori, Tegalrejo Magelang. Selama nyantri disitu beliau dikenal Sebagai santri yang mbeling dan mbluthus (nakal dan banyak akal).

Pada suatu malam, bersama teman-temanya Gusdur merencanakan untuk mengambil ikan peliharaan Kiai Chudhori. Layaknya sebuah operasi besar kesatuan intelegen, tiap-tiap orang kembagian tugas sesuai dengan kredibilitas masing-masing. Tak terkecuali Gus Dur yang oleh temannya di serahi tugas sebagai mata-mata, yakni mengawasi kalau ada tanda-tanda Kiai Chudhori terjaga dari istirahatnya, maka tugas Gus Dur adalah memberi kode kepada teman-temannya untuk segera mengakhiri operasi rahasia itu.

Setelah perencanaan dirasa sudah cukup matang, dan pembagian tugas juga telah disepakati bersama, maka mulailah santri-santri mbeling ini menjalankan operasinya.