10 Mei 2010

Bahram Al Majusi

Dikisahkan oleh Abdullah Bin Mubarok.

Suatu ketika, saat aku baru saja menuaikan ibadah Haji ke Baitulloh. Ketika berada di Hijir Ismail aku tertidur di tempat itu dan bermimpi bertemu dengan Rosulullah. Dalam mimpiku itu Beliau bersabda,”Bila kamu pulang ke Baghdad nanti, masuklah ke daerah ini dan temuilah seorang bernama Bahram Al Majusi. Sampaikan salamku padanya dan katakan bahwa Allah telah meridhoinya!.” Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, lalu membaca : LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIM.

Saat itu aku berkeyakinan bahwa itu adalh impian setan. Maka aku segera bewudhu dan thawaf di sekeliling ka’bah. Kemudian akupun tertidur kembali dan seperti itu lagi. Hail ini berulang sampai tiga kali berturut-turut.

Setelah menuaikan rangkaian ibadah haji itu, aku lalu pulang ke Baghdad dan masuk ke sebuah tempat sebagaimana yang diisyaratkan Rosullah dalam mimpiku itu. Di daerah itu aku berusaha mencari rumah Bahram Al Majusi, dan ternyata dia adalah seorang lelaki yang usianya telah lanjut. Kemudian akubertanya kepadanya: “Wahai kisanak, benarkah kisanak ini adalah Bahram Al Majusi?”

Sekilas Menilik Tentang Sastra Profetik

Ketika membaca suatu karya sastra khususnya puisi, mayoritas penikmat sastra mendambakan adanya suatu nuansa keindahan setelah membaca karya sastra. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi, walau mungkin maksud dari puisi tersebut adalah kegetiran kata yang tak tampak pada kasatmata.

Sastra yang bermukim pada wilayah teologi Islam, adalah merupakan bibit dari munculnya kesusastraan Melayu. Sedang sastra keagamaan yang merujuk pada Islam itu dapat dibagi menjadi tiga cabang; ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Di antara ketiga cabang ilmu dalam kajian Islam tersebut, ilmu tasawuf merupakan yang paling dekat dengan sastra, khususnya sastra Islam. Mengapa ilmu tasawuf disebut sebagai bibit dari corak sastra Islam?

Ilmu tasawuf menjelaskan tentang wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Setelah melewati persinggahan-persinggahan (maqamat) dalam rasa kebatinan yang begitu dalam, banyak tokoh tasawuf (sufi) berharap untuk dapat bersatu dengan Tuhan, berusaha mendapatkan kesejatian diri, kesejatian alam, dan kesejatian Tuhan. Pesona indah kalimat yang diucapkan para sufi yang mengharap pancaran Ilahi menyelam ke dalam hati, berbeda dengan pengalaman pahit yang mereka derita. Karena manusia tidak bisa melepaskan diri dari pengertian tentang Tuhan, maka banyak kemungkinan bagi para sufi untuk memperoleh derajat tertinggi jika sudah bersatu dengan Tuhan, atau bersatu dengan semesta. Singkatnya, dalam persinggahan itu muncul kalimat-kalimat yang begitu indahnya dengan penjiwaan yang begitu teramat dalam serta mengandung keindahan bahasa yang sungguh luar biasa.

Dua Anugerah Besar Dari Allah

Segala sesuatu yang wujud di alam semesta baik berupa manuasia, malaikat, binatang, tumbuh tumbuhan, udara, dan lain sebagainya, adalah tidak lepas dari dua kenikmatan yang telah diberikan Tuhan, yakni nikmat “ijad” dan nikmat “imdad”.

Pada hakikatnya, semua mahluk ialah bersifat ‘adam (tidak ada), lalu Allah menciptakan sesuatu yang semula tiada menjadi ada. Keberadaan manusia yang pada mulanya belum ada, lalu oleh Allah diwujudkan melalui rahim seorang ibu, adalah merupakan bentuk kenikmatan ijad dari Allah.

Setelah segala sesuatu diwujudkan oleh Allah, maka untuk kelestarian wujud dari mahluk tersebut Allah memberikan nikmat imdad. Nikmat ijad tidak selalu diiringi dengan nikmat imdad, semisal bayi yang baru lahir, ada yang lantas tumbuh sehat dan membesar dengan melalui perantara air susu ibu serta makanan makanan tambahan lainnya. Namun ada juga bayi yang baru lahir dan sekejap menghirup udara kehidupan lantas oleh sang ibu dibungkus kresek dan dibuang di tong sampah. Pada ilustrasi yang kedua, Allah telah memberikan nikmat ijad akan tetapi tidak memberikan nikmat imdad.

أنعم عليك أوّلا بلإيجاد وثانبا بتوال الإمداد


Ibnu ‘Athaillah Assakandari: “Allah telah memberikan nikmat kepadamu, yang pertama adalah nikmat ijad (diwujudkan), dan yang kedua nikmat imdad (kelestarian wujud secara terus menerus.”

Nasehat Untuk Raja

Dikisahkan oleh Sa'di;

Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwisy untuk datang ke istananya agar memberi nasihat kepadanya.

Ketika Darwisy itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"

Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur."

Sang Raja jadi keheranan, "Mengapa?"

"Karena ketika tidur " jawab darwisy itu, "baginda berhenti mendhalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kedhaliman."


*****

9 Mei 2010

biarkan aku, kekasih

di sejenak ini
biarkan aku, kekasih
senantiasa hanya memandangimu
dalam rindu nan
tak surut meredup
makin kian
berpijar
berpendar
nyala
selalu

Sedekah

Sore itu Nampak Kang Sarkam dan Dul Kamdi sedang asik duduk jagongan di sebuah angkringan sambil menikmati kopi panas dan semilir angin sore, sambil ngobrol ngalor ngidul. Tibatiba Dul Kamdi dengan mimik agak serius bertanya:

“Kang, kenapa sih orangorang itu kalau sedekah sukanya ditampak-tampakin?”

“Maksudmu siapa, Dul?”, Kang Sarkam balik bertanya.

“Lha itu kayak Kaji Mahsun, masak mau sedekah aja ngumpulnya orang banyak. Udah gitu pake acara seremonial lagi. Apa itu ndak riya’, Kang?”

“sebentar to, Dul… Maksudmu riya’ gimana, menperlihatkan amal sedekahnya kepada orang banyak karena pingin dipuji gitu to?”

8 Mei 2010

Seminar Godheg

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih, dalam sebuah ruangan yang menyerupai sebuah aula itu, yang terletak di pojok antara deretan bangunan asrama santri, nampak Kang Sarkam, Dul Kamdi, Durakim, Kalimi, Mat Pithi, dan teman-temannnya yang berjumlah sekitar lima belas dua puluh orang terlihat  masih asik memperbincangkan sesuatu yang nampaknya seru. Terdengar mereka saling berdebat dengan seru mengutarakan argument masing-masing. Membuka lembar-lembar kitab yang bertumpuk yang bertumpuk dimeja untuk mengumpulkan ta’bir (dalil).

Alih-alih ternyata mereka mengadakan halaqoh (seminar), membahas tentang hukum godhek (geleng-geleng) ketika berdzikir. Siang sebelumnya, Dulkamdi menerima pertanyaan dari seseorang tentang hukum godhek ketika berdzikir, dan dia tak bisa menjawab, karena ia belum mengetahui satu hadits pun yang berkaitan tentang itu. Malamnya mereka mengadakan seminar yang khusus membahas tentang godhek manthuk-mantuhk ketika berdzikir. Tapi, sampai sekian lama, tak satu pun hadits mau pun ta’bir yang bisa mereka jadikan dalil.